Posts

Showing posts with the label Personal

Going Back

Suara di kepala bersahut-sahutan. Berisik sekali. Meminta untuk melakukan banyak hal yang harus, yang belum pernah, dan yang sudah lama tidak. Terlalu malas untuk suatu keharusan. Terlalu overthinking untuk sesuatu yang baru. Terlalu takut untuk kembali pada yang dulu pernah. Kali ini satu suara menang. Salah. Kali ini suara-suara itu menjadi satu. Sebuah keharusan untuk memulai hal baru setelah sekian lama tidak. Kembali menulis. Iya, harus dimulai lagi karena isi di kepala banyak yang layak keluar lewat kata-kata. Entah nanti statusnya sebatas draft yang tersimpan, menunggu untuk dihapus atau sebagai sebuah post yang dilihat untuk dibaca oleh orang lain. Lalu, apa yang baru? Mungkin tidak ada. Masih panjang lebar melibatkan perasaan (yang sepertinya tidak sesuram dulu) dan bukan sekadar kata-kata bersayap demi untuk dalam rangka.  Oh ada sih, ini akan menjadi tulisan pertama tahun ini dan di umur yang baru. Bisa kan? Such a nice one to have something posted right in a certain mo...

Satu Hal Yang Membosankan

Saya bosan jadi orang baik. Seringkali membantu yang lain bahkan sebelum diminta tapi tidak jarang kesulitan dan sendirian. Saya bosan jadi orang baik. Sangat mudah memaafkan dan hidup seperti biasa meski sakitnya terus ada seolah tidak terlupakan. Saya bosan jadi orang baik. Sekian kali memikirkan apa yang akan keluar dari mulut dalam rangka menjaga perasaan lawan bicara padahal faktanya tidak jarang yang diidengar justru tidak seharusnya masuk ke pikiran. Saya bosan jadi orang baik. Sulit berkata tidak tapi merasa terbeban dengan mengiyakan. Saya bosan jadi orang baik. Selalu berusaha menyamankan dan menyenangkan yang lain kecuali diri sendiri. Saya bosan jadi orang baik. Setidaknya jika bisa, saat ini saya ingin jadi orang yang bahagia.

Saya Masih Mengingatnya

Saya masih mengingatnya. Saat saya tidak bisa mengikuti tes golongan darah yang hanya berbayar beberapa ribu rupiah. Saya masih mengingatnya. Saat saya tidak bisa melawan bullying  yang berlangsung cukup lama. Saya masih mengingatnya. Saat saya membuat seseorang menjadi teman bagi yang lainnya tapi justru sayalah yang terlupakan. Saya masih mengingatnya. Saat saya tidak punya pilihan dalam menentukan sekolah dan jurusan. Saya masih mengingatnya. Saat saya terpaksa merelakan tabungan yang hilang dan rencana yang berantakan. Saya masih mengingatnya. Saat saya dianggap tidak mampu melakukan sesuatu dalam tugas kelompok selain menjaga tas. Saya masih mengingatnya. Saat saya memilih tidak datang ke acara kelulusan karena tidak mempunyai sebuah kebaya. Saya masih mengingatnya. Saat saya seolah berdosa dengan tidak berpenampilan sama seperti yang lainnya. Saya masih mengingatnya. Saat saya ditanya apakah pernah ada seseorang yang berkata bahwa ia menyukai saya. Saya masih mengingatnya. Sa...

Satu Hari

Selamat ulang tahun. Selamat bertambah usia. Selamat hari lahir. Selamat menjadi tua. Beragam kata pembuka yang terucap dan dijawab dengan terima kasih. Semoga sehat selalu. Semoga panjang umur. Semoga bahagia. Semoga rezekinya lancar. Tak lupa doa-doa baik yang menyertainya dan diaminkan dengan sepenuh hati. Semoga segera menyusul ke pelaminan. Semoga cepat punya momongan. Terkadang ada juga doa--doa spesifik yang diselipkan meski tanpa sadar kondisinya belum tentu tepat. Satu hari dalam satu tahun, selama seumur hidup. Berbahagia atau tidak, jalani saja. Hanya satu hari.

To Do List

Coloring my hair. Doing make-up by myself Taking lots of selfie. Dressing up as I want. Learning foreign languages. Writing regularly. Enrolling in sports' classes. Finding new hobbies. Finishing my to-watch-list. Having friend(s) in real life. Being confident. Being grateful. Being alive. Being me.

Selamat Tinggal

Rasanya saya tidak pernah tahu cara yang tepat untuk menciptakan sebuah perpisahan. Antara tidak mau atau tidak mampu. Entahlah. Lima belas tahun lalu, saya menjalin sebuah hubungan yang tidak pernah terpikir sama sekali saat itu akan bertahan sedemikian lama. Jika ditanya seberapa dekat. Kami bertemu hampir setiap hari. Jika ditanya seberapa nyaman. Belasan tahun adalah pembuktian betapa nyaman dan terbiasa bagaikan dua sisi mata uang. Jika ditanya seberapa banyak saya tertawa atau menangis. Terlalu banyak. Jika ditanya seberapa sering saya ingin mengucap pisah. Terlalu sering. Seiring dengan berjalannya waktu, saya menyadari bahwa hubungan ini tidak lain adalah satu-satunya distraksi yang saya miliki untuk meredam keributan di kepala. Alasan terkuat agar saya bisa terus menjalani hidup. Alasan terbaik agar saya bisa terlihat normal seperti orang lain pada umumnya. Seolah-olah seperti itu. Tanpa sadar bahwa semakin lama keributan itu pergi menyisakan kekosongan yang membuat sesak. Ras...

A Love Letter in The New Year

Pandemic been hitting me (and this whole world) damn hard. Never thought that I would be this relieved and thankful in surviving 2020. For the first time in my life, someone got me to break my walls and open up my layers. For the first time in my life, someone got me to tell to myself that I don't wanna be alone, I wanna be loved, and I wanna be happy cause I deserve it. For the first time in my life, I do not have to beg for attention or affection from one. He came unexpectedly and decided to stay. He makes me laugh. He is there when I cry. He feeds me a lot. He listens to my jokes and stories. He lets me be myself. He says good things about me and corrects me when I am wrong. He protects me and puts myself first. He promises to take care of me. He deals well with my mood-swing. He thinks about this and that on behalf of me. He gets me believe in a relationship. I started 2020 with tears but I ended it with smile because of him. He is my very best important person that I wanna mak...

Terima Kasih, 2020

Masih samar teringat di pikiran tentang beratnya hari-hari terakhir sebelum menyeberang ke tahun yang baru di Desember lalu. Tidak ada resolusi besar yang diumbar di media sosial seperti kaum netizen pada umumnya. Hanya ingin bertahan hidup meski jika sekadar hidup. Harapan dan rencana perihal ini dan itu masih ada meski entah kapan realisasinya. Sampai ketika suatu masa bernama pandemi membuyarkan semua. Adanya tuntutan dan kewajiban untuk menjaga diri serta orang lain dengan banyaknya kebiasaan baru sungguh berada di luar konsep awal bertahan hidup yang dipersiapkan. Sesak. Lelah. Takut. Cemas. Sulit. Sekian bulan berjalan dengan emosi yang naik turun semasa pandemi dan saya masih di sini, bersiap menyambut tahun yang baru. Terima kasih karena sudah menjadi filter untuk beragam karakter. Terima kasih karena akhirnya berlalu. Terima kasih, 2020.

Kronologi

Tahun ini dimulai dengan air mata tanpa henti di sebuah kamar di daerah Setiabudi. Ledakan kembang api bersahutan yang hanya bisa dilihat sambil duduk di sudut ruangan, meringkuk memeluk diri. Baju dan rambut setengah basah, sekujur tubuh menggigil kedinginan, jemari gemetar tanpa henti. Sebisa mungkin menghentikan kilasan tentang apa yang sudah terjadi sepanjang hari. Dua puluh empat jam menuju satu Januari. Enam bulan berselang. Pandemi datang. Jarak fisik dan sosial mulai terbentang. Rencana melakukan ini dan itu serta keinginan bertemu orang -orang baru terpaksa harus dibuang. Dua puluh hari menuju hari lahir. Bulan ini dimulai dengan satu harapan sederhana. Melakukan satu-satunya hal yang tidak pernah ada di dalam rencana. Berbahagia, entah caranya bagaimana.

Surat Untuk Kamu

Hey, kamu. Kamu adalah orang pertama di tahun ini yang signifikan... ...yang membuatku nyaman. ...yang membuatku awur-awuran. ...yang membuatku bertahan. Saat aku kerap menghujanimu dengan banyak sekali pesan yang sebagian besar berisi keluhan, kamu mampu meyakinkan kalau aku tidak akan pernah sendirian hanya lewat sebuah sapaan. Tak jarang kamu membuatku menunggu balasan hingga di jam kesekian. Tak jarang aku membuatmu menunggu hingga aku ketiduran sebelum mengakhiri percakapan. Aku menyebut diriku merepotkan. Kamu menyebut dirimu perhatian. Jika demikian, izinkan aku malam ini sedikit saja, sebentar saja, sekadar menuangkan perasaan. Boleh kan? Ya, aku merindumu.

Nyauw...

Tidak peduli seberapa besarnya usahaku melupakanmu, rasanya tetap saja aku kalah. Terlalu banyak. Iya, terlalu banyak kenangan tentangmu di kepalaku. Tidak, bukan hanya tentangmu melainkan juga tentang kita. Minuman kesukaanmu. Makanan yang ingin kita makan bersama. Deretan tempat impianku yang katamu akan kita datangi satu persatu. Pertanyaan basa basi yang selalu terasa hangat meski memang hanya bersifat rutinitas. Pertanyaan yang tidak jarang hanya terkirim tanpa tahu kapan akan terbaca dan terjawab. Itu namanya perhatian, katamu. Kesibukan masing-masing yang tidak pernah menjadi alasan untuk menghilang. Penting tapi ga segitunyalah, katamu. Lelah seolah mampu terobati hanya dengan percakapan dini hari yang berisi lelucon yang itu-itu saja dan suara dengkuran halus yang tidak lagi tertahan di jam kesekian. Aku mengingat itu semua. Entah bagaimana denganmu. " Tahuuu buuulat... Digoreng da da kan! Lima ratusan, hangat-hangat! Nyauuuw..." Nyanyian...

#2020bertemu

Image
#2020bertemu adalah sebuah tagar yang mendadak muncul di kepala beberapa waktu lalu, dalam rangka suasana tahun baru. Awalnya, di bulan Desember saya pernah menuliskan  seperti ini  di akun Twitter:   Saat itu menurut saya #2020bertemu adalah ungkapan yang cukup menarik sebagai ucapan tahun baru. Sekadar permainan rima kata tanpa arti lebih dari ajakan bertemu. Lalu saya teringat salah satu resolusi di tahun sebelumnya yaitu ingin bertemu lebih banyak orang baru, direncanakan atau tidak. Semacam keinginan untuk menjadi pribadi yang "normal" dan mau membuka diri. Sayangnya, 2019 sepertinya bukan waktu yang tepat. Jangankan untuk bertemu orang baru, bahkan sekadar menjalani rutinitas harian saja rasanya begitu berat dan menyesakkan. Oleh karena itu, tahun ini saya berniat sedikit menantang diri sendiri melalui tagar #2020bertemu serta menceritakannya di sini. Tujuannya adalah mengukur kenyamanan diri dalam hal berinteraksi sekaligus meredam bising di kepala d...

Hidup Di Tahun Baru

Tahun ini mengalami hal-hal yang terjadi untuk pertama kali, baik itu yang memang direncanakan maupun dipaksakan. Alasan yang diungkapkan serta perasaan sesudahnya, yang diceritakan maupun tidak. Seolah segala sesuatu sudah sebagaimana mestinya. Tahun ini mengalami perkenalan dan pertemuan dengan orang-orang yang memang diinginkan serta "perpisahan" yang sampai detik ini rasanya tidak pernah terpikirkan akan ada (atau paling tidak, bukan dalam waktu dekat). Seolah segala sesuatu bisa diatur semaunya. Tahun ini... Semoga menjadi tahun kematian bagi diri yang lama dan hari-hari dengan kesuraman yang sama. Sudah cukup. Lelah ini. Sakit ini. Sedih ini. Tangis ini. Pahit ini. Sudah cukup. Menjalani hidup hanya sekadar hidup, sekeras berjuang dan terus bertahan. Jika memang menjadi bahagia terlalu tinggi untuk diamini, maka menikmati hidup adalah satu-satunya doa yang layak diucapkan untuk tahun yang baru nanti.

(Not My Kind Of) To Do List

Guess it's been zillion ages ago since the last time I put trust in someone. Breaking all the walls I made for such a long time. Uncovering each layer of me. My thought, my past, my dream, my feeling, my jokes, both the shitty and normal ones. Every time I got disappointed over someone, I always blame myself. My bad to trust this person too much. My bad to crave for good things happen. I don't deserve kindness. I don't deserve any kind of relationship. I don't deserve people. What I am -sometimes- being afraid is if one day I think that I don't deserve to stay alive. I have no idea about attention, care, love, and kind words. I am just such an amateur in terms of enjoying life. For me, having support system even just one single person is like a bullshit and surreal. Well, but shit happened and here I am keep hurting myself by either trusting the wrong people or simply being over-insecure. Maybe it's better to deal with all this miserable ci...

Resolusi

Sudah tahun baru, lakukanlah ini dan itu. Sudah tahun baru, mulailah melihat dunia luar. Sudah tahun baru, jujurlah dengan perasaanmu. Sudah tahun baru, tersenyumlah. Sudah tahun baru, keluarkan sampah di kepalamu. Sudah tahun baru, melangkahlah sedikit lebih jauh. Sudah tahun baru, lupakan apa yang seharusnya. Sudah tahun baru, lepaskan yang selama ini membuat terikat. Sudah tahun baru, beristirahatlah sesukamu. Sudah tahun baru, jangan lagi sering menangis. Sudah tahun baru, belajarlah untuk bahagia. Sudah tahun baru, kenali dirimu.

Baper

Hari itu aku menangis. Lalu kamu datang dan aku merasa bahwa semua bisa baik-baik saja. Hari ini aku menangis. Saat kamu pergi dan aku merasa bahwa semua bisa baik-baik saja.

A Farewell Note

I was serious when I talked about a chance to get better with you. Turned out that I was wrong and damn it hurts. Never knew that it would be this much. Almost unbearable. Leaving me with why's and what if's. I am not surprised but still, this heart-ache is killing me. You are pretty good to make me feel bad enough about myself. I thank and congratulate you for that. If only I could turn back time, I still want to redo what we shared together cause that was the first time I felt alive since I don't know. Cheers and good luck for your life.

Dekade

2002 Aku diam Mereka bicara Kami berpisah 2012 Aku bicara Mereka diam Kami berpisah 2018 Haruskah aku menunggu empat tahun lagi untuk sebuah perpisahan?

Self Talk

"Hey there" "Hey" "How are you today?" "Umm.. Today? I'm good. Yeah, I guess so. At least, I'm trying." "Ahaha.. okay. So, how does it feel?" "What do you mean? To get older and broke(n-hearted)? LOL" "Any special wish?" "Let's be cliche and keep saying about "be happy" and shit." "But don't you think happiness is a myth?" "Since we're talking about wishes, so.. well.." "Any good things happened lately?" "Idk. Maybe." "What about the last promise you got this month?" "I broke it days ago. Can't help it. Ahaha. What a shame!" "Do you have any plans for the rest of the year?" "T o eat-write-trip more, to  survive every single day as a normal human being, to stay alive at the end of the day, to sleep simply as the way to have a rest not because ...

It's Not Them, It's Me

I miss people. I hate myself for every time I feel uneasy dealing with people. I prefer lock myself alone at home, do my work alone in the corner with earphone and radio on. I avoid eye contact, either I’m in a crowd or just passing by somewhere. I start thinking that I’m afraid of people for no reason. I don’t know what-to-say or what-to-do when people around. I would keep blabbering about this and that instead of having a dead-air and being awkward. I regret a lot about what-I-said or what-I-did after spending time with people. I think that wouldn’t be that hard to start mingle whenever good people surround me. I think so but it’s not. I want to live a normal life with at least one or two people closer and even more around. I realize that it would make this shitty life seems bearable. I just need some time. I miss people, it’s so true, but I miss myself more.