Posts

Showing posts with the label #Heythere

Surat Untuk Kamu

Hey, kamu. Kamu adalah orang pertama di tahun ini yang signifikan... ...yang membuatku nyaman. ...yang membuatku awur-awuran. ...yang membuatku bertahan. Saat aku kerap menghujanimu dengan banyak sekali pesan yang sebagian besar berisi keluhan, kamu mampu meyakinkan kalau aku tidak akan pernah sendirian hanya lewat sebuah sapaan. Tak jarang kamu membuatku menunggu balasan hingga di jam kesekian. Tak jarang aku membuatmu menunggu hingga aku ketiduran sebelum mengakhiri percakapan. Aku menyebut diriku merepotkan. Kamu menyebut dirimu perhatian. Jika demikian, izinkan aku malam ini sedikit saja, sebentar saja, sekadar menuangkan perasaan. Boleh kan? Ya, aku merindumu.

Nyauw...

Tidak peduli seberapa besarnya usahaku melupakanmu, rasanya tetap saja aku kalah. Terlalu banyak. Iya, terlalu banyak kenangan tentangmu di kepalaku. Tidak, bukan hanya tentangmu melainkan juga tentang kita. Minuman kesukaanmu. Makanan yang ingin kita makan bersama. Deretan tempat impianku yang katamu akan kita datangi satu persatu. Pertanyaan basa basi yang selalu terasa hangat meski memang hanya bersifat rutinitas. Pertanyaan yang tidak jarang hanya terkirim tanpa tahu kapan akan terbaca dan terjawab. Itu namanya perhatian, katamu. Kesibukan masing-masing yang tidak pernah menjadi alasan untuk menghilang. Penting tapi ga segitunyalah, katamu. Lelah seolah mampu terobati hanya dengan percakapan dini hari yang berisi lelucon yang itu-itu saja dan suara dengkuran halus yang tidak lagi tertahan di jam kesekian. Aku mengingat itu semua. Entah bagaimana denganmu. " Tahuuu buuulat... Digoreng da da kan! Lima ratusan, hangat-hangat! Nyauuuw..." Nyanyian...

Baper

Hari itu aku menangis. Lalu kamu datang dan aku merasa bahwa semua bisa baik-baik saja. Hari ini aku menangis. Saat kamu pergi dan aku merasa bahwa semua bisa baik-baik saja.

A Farewell Note

I was serious when I talked about a chance to get better with you. Turned out that I was wrong and damn it hurts. Never knew that it would be this much. Almost unbearable. Leaving me with why's and what if's. I am not surprised but still, this heart-ache is killing me. You are pretty good to make me feel bad enough about myself. I thank and congratulate you for that. If only I could turn back time, I still want to redo what we shared together cause that was the first time I felt alive since I don't know. Cheers and good luck for your life.

Monologue

Mon, 2 Jul 09:07 Hey 09:10 It's me. 09:10 Again Fri, 6 Jul 21:15 You promised me to talk about the scar in you right arm. Wed, 11 Jul 19:51 I missed the bus. Shit! 19:52 Kinda miss you, dear traffic buddy! Sun, 15 Jul 12:10 You know what, I promised myself not to cry this month.  12:10 Yes, only this month 12:11 But damn it's almost unbearable Thu, 19 Jul 08:58 Apa kabarnya? Fri, 20 Jul 06:04 It's my birthday 06:04 Don't you want to say something? Sat, 21 Jul 15:50 Lagi apa? Sun, 22 Jul 08:15 I feel sorry for myself 08:15 A lot Mon, 23 Jul 07:18 Pengin duduk lama di tempat biasa kita call 07:19 Cuma buat ngabisin waktu Thu, 26 Jul 15:02 Hey 18:46 Halo 18:46 How's your work? 18:49 How's your mood? 18:49 Mine is fucked up 18:49 Always 18:50 Gua di tempat biasa ni. 18:50 Call? Mon, 30 Jul 13:29 Hey 13:29 Hari ini gua m...

The Call

I was stuck in my night class when I got your text. I read it twice. I checked the date and time. Just want to make sure that it was REALLY you. "Are you still having a class?" I stared at my phone for a while before making a reply. "Yup" A short one that led to a long call in the next hour. Personality, friend of friend, assignment, Nicole Kidman. That was our first call. 📞 It was the night after an overtime work, when I bought myself a pair of shoes as a reward. I was too busy picking up the size and model when my phone rang. It was you. I froze for a second and answered it happily. Where-are-you, aren't-you-going-home-yet, friend's wedding, partner. That was our second call. 📞 📞 Been too long for keeping this feeling and I couldn't hold it anymore. That might be okay to make such a confession with no intention. I just thought that you had to know. At least, they were things that pop...

A Birthday Tale

Ini adalah kisah yang terjadi di sebuah negeri bernama Kupiland, tepatnya di desa terpencil yang biasa dikenal sebagai zKupillage dengan penduduk aslinya yang disebut zKupillacious. Sesuai dengan namanya, desa ini merupakan penghasil utama terbesar kacang hijau. Selain menjadi makanan utama para penduduknya yang berjumlah 306 orang, kacang hijau juga diekspor sampai ke luar negeri seperti Yellowland, Republic of Purple, bahkan Indonesia. Tidak hanya terkenal sebagai bubur yang dimasak sesuai resep asli zKupillacious, masyarakat luar juga gemar menjadikannya sebagai bahan dasar membuat es krim atau jajanan pasar seperti kue ku dan bakpia. *** Suatu ketika seorang anak laki-laki berkacamata bernama Isaac (biasa dipanggil Aizek), yang sedang duduk di atas tumpukan daun kering sambil diam-diam memakan nasi goreng yang dipesannya lewat layanan pesanan antar dan mendengarkan lagu berjudul sama dengan warna kesukaannya yaitu Kuning dari band Rumahsakit, melihat sebuah pohon tinggi...

"I Met Her in The Funeral."

“I met her in a funeral.” Failed to remember the last time I heard your voice that clear. “I met her in a funeral.” Never thought that I would get hurt like this just to hear you talking about someone else. “I met her in a funeral.” Your smiling voice, those sparkling eyes… As you remembered that time you met her. “I met her in a funeral.” There were times when I saw you with other ones, looked happily, but this one was more suffocating. “I met her in a funeral.” Tell me more, I want to know. I met her in a funeral.” Here I am wondering if the word 'funeral' meant that I should bury all of my feelings to you.

Kutukan Juli

Nama saya Juli dan ini sudah kesembilan belas kalinya saya gagal untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Tidak hanya hubungan pertemanan tapi juga percintaan. Rekor terlama saya dekat dengan orang lain adalah sekitar empat tahun yaitu semasa kuliah yang itupun tidak sepenuhnya bahagia. Terakhir kali saya takabur melabeli seseorang sebagai (calon terkuat) sahabat tapi ternyata lagi-lagi kandas. Menyedihkan. Kebetulan si korban –atau pelaku, entahlah- yang kesembilan belas ini adalah laki-laki dan statusnya pun hanya teman. Saya mengenalnya beberapa tahun lalu karena urusan pekerjaan dan hanya sempat bertemu satu dua kali tanpa sempat mengobrol banyak. Kedekatan di antara kami justru muncul saat kami sudah tidak lagi berhubungan secara profesional. Berawal dari saling menambahkan sebagai teman di salah satu media sosial dan berakhir dengan chatting seputar ini itu. Seperti yang dikatakan oleh salah satu lagu lawas, mulanya biasa aja. Dia kerap membuka obrolan dengan perih...

A (Not So) Secret Admirer, Just A Serious Observer

"I always interpret coincidences as little clues to our destiny." - Ann Brashares I used to hide and watch you from a distance Aku menyukaimu bahkan sebelum kita saling bersalaman dan saling menyebut nama masing-masing. Sejak pertama kulihat kamu di tengah keramaian kantin kantor saat jam makan siang. Sejak pertama kuperhatikan kamu tidak seriuh dan seramai teman-teman semejamu yang lain. Sejak pertama kusadar kamu jarang sekali terlihat berbicara apalagi tertawa di tempat umum. Beberapa kali kulihat hanya sekadar senyum tipis yang kamu keluarkan sebagai respons saat berkomunikasi. Sejak pertama kutahu bahwa ternyata kita bergabung di komunitas yang sama. I was looking for a time to get closer at least to say hello Awalnya aku pikir akan lebih mudah berkenalan dengan orang yang pendiam karena tidak perlu takut dibuat salah tingkah saat harus bertemu lagi. Aku salah. Ternyata sangat sulit saat harus memulainya denganmu. Ternyata ...

Sebuah Playlist

Saat itu kami sedang berada di perjalanan pulang sehabis dari acara pernikahan seorang teman. Beberapa kali dia mengganti lagu yang terputar secara acak dengan alasan terlalu berisik, tidak jelas, atau terlalu berat. Entahlah. Aku hanya memandanginya seraya tertawa karena aku tahu dia tidak serius dengan semua komentarnya. Bagaimanapun juga ini mobilnya dan itu semua adalah pilihan lagunya sendiri. Apa mungkin dia salah tingkah karena ini pertama kalinya kami pergi bersama? Ok, aku tahu itu terlalu berlebihan. "Denger radio aja deh ya.." Tak lama kemudian, "Ah, sama aja. Ga ada yang enak." Dia pun menyerah dan mematikannya. "Ngobrol aja deh, ngobrol." "Kapan-kapan aku mau dibuatkan  playlist  berisi lagu-lagu yang kamu suka." Aku mencoba membuka percakapan. "Hmm.." "Eh, jangan deh. Maksudku lagu-lagu yang menurutmu enak." "Hmm.. Apa bedanya?" "Karena lagu yang kamu suk...

The Confession

Ketika dia yang kau pikir datang untuk menjadi harapan terakhirmu ternyata perlahan memudar dan menghilang, apakah kau masih percaya dengan adanya kepercayaan? Ketika dia yang kau kira telah berhasil menyembuhkan segala lukamu ternyata sebenarnya hanyalah racun yang menggerogoti dirimu, apakah kau masih mampu berkata sakit? Ketika dia yang kau mau habiskan hari-harimu bersamanya ternyata malah menghentikan langkah di salah satu hari, apakah kau masih siap untuk memulai hari lain? Ini bukan cerita tentang jatuh cinta, karena kata jatuh identik dengan rasa sakit. Ini juga bukan cerita tentang patah hati, karena kata patah identik dengan yang tak lagi utuh. Ini tentang hati, yang entah apakah terdapat juga cinta di dalamnya. *** Sepertinya empat tahun cukup untuk membuatku yakin dengan perasaanku, tapi entah bagaimana dengan perasaanmu. Setelah mempertimbangkannya selama beberapa bulan terakhir aku tahu inilah saat yang tepat untuk mengungkapkannya. Ya, aku akan men...

Dini Hari Di McD

01:00 “Ayo kita jalan-jalan!” sebelum mendengar jawabanku kamu sudah berjalan keluar kamar membawa handphone dan dompet, meninggalkanku yang sedang asik menikmati sepiring es krim yang sudah mencair. Aku terpaksa bangun, mengambil tas, mengunci pintu kamar, dan segera menyusulmu setengah berlari dengan masih mengenakan baju tipis dan celana pendek yang seharusnya menjadi seragam tidurku malam ini. --- 21:00 “Aku bosan. Ayo kita kembali ke hotel saja.” katamu dengan wajah murung sambil terus memandangi layar handphone. “Loh, kenapa? Masih jam segini. Sayang banget kalau cuma di hotel.” aku berusaha untuk bersikap biasa saja meski di satu sisi sebenarnya aku sudah cukup muak dengan situasi seperti ini. Orang biasa menyebutnya mood swing . Kamu mungkin menyebutnya holiday mood swing . Aku selalu menyebutnya your current mood. Kamu diam. Tidak membantah meski aku yakin juga tidak menerima. “Tau gini mah, mending di rumah aja.” bisikmu pelan tapi masi...