Posts

Showing posts with the label Random

Manusia

Manusia membingungkan. Hari ini seolah tidak kehabisan kata, hari lainnya seolah tidak pernah bertukar nama. Manusia mengecewakan. Sekarang menjanjikan ini dan itu, sebentar kemudian melupakannya begitu saja. Manusia menyebalkan. Membuat nyaman, menyakiti perasaan, mengucap penyesalan, mengulangi kesalahan. Manusia memusingkan. Mengatakan sesuatu, melakukan sebaliknya. Manusia. Selalu merasa si paling di saat seharusnya menjadi saling.

Surat Untuk Kamu

Hey, kamu. Kamu adalah orang pertama di tahun ini yang signifikan... ...yang membuatku nyaman. ...yang membuatku awur-awuran. ...yang membuatku bertahan. Saat aku kerap menghujanimu dengan banyak sekali pesan yang sebagian besar berisi keluhan, kamu mampu meyakinkan kalau aku tidak akan pernah sendirian hanya lewat sebuah sapaan. Tak jarang kamu membuatku menunggu balasan hingga di jam kesekian. Tak jarang aku membuatmu menunggu hingga aku ketiduran sebelum mengakhiri percakapan. Aku menyebut diriku merepotkan. Kamu menyebut dirimu perhatian. Jika demikian, izinkan aku malam ini sedikit saja, sebentar saja, sekadar menuangkan perasaan. Boleh kan? Ya, aku merindumu.

Nyauw...

Tidak peduli seberapa besarnya usahaku melupakanmu, rasanya tetap saja aku kalah. Terlalu banyak. Iya, terlalu banyak kenangan tentangmu di kepalaku. Tidak, bukan hanya tentangmu melainkan juga tentang kita. Minuman kesukaanmu. Makanan yang ingin kita makan bersama. Deretan tempat impianku yang katamu akan kita datangi satu persatu. Pertanyaan basa basi yang selalu terasa hangat meski memang hanya bersifat rutinitas. Pertanyaan yang tidak jarang hanya terkirim tanpa tahu kapan akan terbaca dan terjawab. Itu namanya perhatian, katamu. Kesibukan masing-masing yang tidak pernah menjadi alasan untuk menghilang. Penting tapi ga segitunyalah, katamu. Lelah seolah mampu terobati hanya dengan percakapan dini hari yang berisi lelucon yang itu-itu saja dan suara dengkuran halus yang tidak lagi tertahan di jam kesekian. Aku mengingat itu semua. Entah bagaimana denganmu. " Tahuuu buuulat... Digoreng da da kan! Lima ratusan, hangat-hangat! Nyauuuw..." Nyanyian...

Menikah Karena Muda(h)

Belakangan ini ada hal yang cukup menarik perhatian sekaligus mengusik pikiran saya dan membuat saya mengaitkannya kesana kemari, yaitu tentang pernikahan. Sebagai orang yang belum menikah (dalam waktu dekat), mungkin saya akan terkesan sok tahu karena dengan beraninya mengangkat topik ini ke permukaan. Bukan, bukan maksud saya untuk seperti itu, ini hanyalah sebuah persepsi dan tidak untuk menyorot mereka yang sudah lebih dulu dan lebih lama menjalani fase ini. Ada yang bilang menikah saja dulu kalau memang sudah siap dari sisi finansial, masalah rasa akan tumbuh dengan sendirinya. Ada juga yang bilang perasaan dan kesiapan psikologis adalah modal utama sebuah pernikahan. Menurut saya, kehidupan pernikahan dengan segala ini-itu di dalamnya tidak semudah sekaligus tidak sesulit yang dilihat atau didengar. Itulah sebabnya diperlukan pemikiran matang sekaligus pembicaraan panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah, bahkan dengan orang yang mungkin sudah saling mengenal da...

Everything Is Not That Important, Everyone Is

Dilihat itu menyenangkan Berbahagialah jika di luar sana ada seseorang yang melihatmu sebagai seseorang yang penting. Mungkin kamu tidak selalu menjadi yang utama dalam segala hal, tapi kamu tahu betul bahwa kamu tidak akan pernah sendiri. Dia ada. Dia melihatmu tertawa bahkan menangis. Dia melihatmu bercerita tentang apapun bahkan saat kamu memilih diam. Dia melihatmu merangkai mimpi, mengejar, dan meraihnya bahkan saat ternyata harus jatuh. Dia melihatmu ada bahkan saat di mata dunia kamu seolah tidak pernah ada. Bersyukurlah jika selama ini dia ada dan melihatmu. Rasanya menyenangkan, bukan? Diingat itu menyenangkan. Berbahagialah jika di luar sana ada seseorang yang mengingat hal-hal kecil baik yang kamu suka maupun tidak padahal itu bukanlah sesuatu yang penting dan bahkan kamu sendiri sudah lupa saat mengatakannya. Ingatan sederhana seperti ajakan menonton film kartun karena belum lama kamu bilang butuh lebih banyak tertawa. Ingatan sederhana...

I Can't Remember To Forget

Lupa kapan terakhir keluar rumah di akhir pekan atau sepulang kerja hanya untuk sekadar menonton film di bioskop, makan dan berbincang tentang ini itu, (tidak sengaja) membeli barang   tidak berguna  lucu, atau apapun dalam rangka melepas lelah, memanjakan diri, dan bersosialisasi. Lupa kapan terakhir berbicara, mengobrol, bercerita dengan orang yang (mau) mengerti kerumitan dan kegilaan di kepala baik lewat tatap muka maupun secara   online . Lupa kapan terakhir hanyut dalam sebuah dunia sendiri yang tercipta lewat sebuah kesenangan akan hobi dan mimpi yang dirangkai diam-diam. Lupa kapan terakhir dibuat salah tingkah oleh sebuah balasan pesan atau sapaan singkat dari seseorang. Lupa kapan terakhir merasa bahwa hidup itu sangatlah menyenangkan seolah masalah hanya berkisar menentukan mau makan apa-dimana-dengan siapa, informasi terbatas tentang artis kesukaan, atau pakaian apa yang ingin dikenakan esok hari. Lupa. Me...

When I Cry

One night on July A million of bunnies cry I asked in a hurry, why But seems like they are too shy Days and weeks fly Here I am, sit alone and cry A million of bunnies are passing by But none ask me why

Sejak Dulu Saya Terbiasa Mencintai

Sejak dulu saya mencintai bahasa. Apapun jenis, bentuk, media, cara penyampaian, tujuan, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan itu. Sejak kecil saya mulai mengenal Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu, jatuh cinta dengan Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, dan akrab dengan Bahasa Batak sebagai bahasa daerah. Sejak duduk di bangku sekolah menengah saya mulai tertarik dengan Bahasa Perancis, Bahasa Jepang, dan Bahasa Jerman. "Sejak dulu saya mencintai bahasa." demikian jawaban saya saat orang menanyakan alasan saya ingin sekali kuliah mengambil jurusan bahasa atau sastra. Mereka tertawa. Mungkin menurut mereka tidak ada artinya. Sejak berhasil kuliah di jurusan yang saya inginkan, ternyata saya semakin mencintai bahasa terlebih dalam hal permainan kata dan penjabaran maksud di baliknya. "Sejak dulu saya mencintai bahasa." demikian jawaban saya saat rekan sekerja kerap menanyakan mengapa saya tidak mengambil jurusan kuliah yang se...

Mencari Distraksi

Ini adalah sebuah kisah sederhana tentang gambaran identitas yang cukup marak di dunia maya. Tempat di mana siapapun (seolah) bisa menjadi apapun. Tempat di mana rasa terkadang bukan lagi sebuah pilihan melainkan paksaan. Tempat di mana hidup bisa terasa menjadi begitu mudah atau justru kebalikannya. Tempat di mana orang keluar dari dunia nyata atas dasar mencari distraksi. *** Pencinta kopi Dia bilang dia pencinta kopi tapi paginya seperti tak pernah dimulai dengan menyeduh minuman panas berwarna hitam pekat itu. Menghabiskan hari-harinya di bawah jembatan layang ibukota membuatnya menganggap kopi adalah sebuah kemewahan. Sesuatu yang selalu dia lihat setiap pagi berada dalam genggaman para pekerja di sebuah gedung perkantoran di dekat jembatan. Baginya sesekali lewat dan menghirup aroma kuat kopi dari balik kedai kopi yang berada tak jauh dari jembatan, tanpa tahu rasanya, sudah cukup menjadi semacam penambah semangat baginya. Mimpinya, duduk diam m...

Tentang Hujan

Aku tidak suka hujan. Entah kenapa, pokoknya aku tidak suka hujan. Banyak orang di luar sana yang melabeli dirinya sebagai pencinta hujan. Aku tidak tahu definisi cinta yang mereka maksud. Apa saat hujan datang mereka akan begitu gembira? Apa saat hujan berhenti atau tidak turun mereka akan bersedih atau merindukannya semikian rupa? Aku tidak tahu cara mereka mengekspresikan cintanya terhadap hujan. Apa mereka selalu menyambut hujan dengan menari bebas? Apa mereka sekadar merangkai sajak berisi kata-kata indah? Aku tidak tahu apa yang dimiliki hujan sehingga banyak orang yang begitu mencintanya. Apa karena aroma   petrichor   yang katanya bisa menenangkan? Apa karena suara tetesannya yang seolah meredam bising di pikiran? Hujan, terlebih yang turun saat aku sedang berada di luar rumah, hanyalah membawa kerepotan dan kepanikan. Aku tidak suka jika harus naik-turun kendaraan umum atau berjalan di tengah hujan. Aku tidak suka mereka yang selalu menga...

Hati-hati, Hati!

Dulu ada Hati yang begitu sederhana, menjalani hidup tanpa pernah meminta atau terluka. Hingga tiba suatu masa di saat Hati merasa menginginkan hati lain yang bisa melengkapinya sehingga ia pun berusaha sekian lama mencarinya. Beberapa kali memang Hati merasa telah menemukannya, tapi ternyata pada akhirnya Hati selalu menuai kecewa. Suatu hari Hati mendapat sebuah penghiburan, perasaan yang membuatnya sesak oleh euphoria. S etiap saat ia seolah berada di atas angin.  Hati mulai bergantung dengan Penghibur. Hati menjadi lemah. Tiap hari, rasa tersebut bagaikan candu yang membuat Hati ketagihan dan oksigen yang membuatnya bertahan hidup. Hati tidak lagi sadar akan kekecewaan masa lalu yang pernah dialaminya dan mungkin bisa saja kembali terjadi. Kebahagiaan Hati yang terlalu besar ternyata tidak sebanding dengan sakit yang Hati rasakan saat Penghibur tiba-tiba menghilang begitu saja. Semua luka masa lalunya yang sudah jauh terkubur kembali muncul bersamaan seolah s...