Posts

Showing posts with the label Story

Nyauw...

Tidak peduli seberapa besarnya usahaku melupakanmu, rasanya tetap saja aku kalah. Terlalu banyak. Iya, terlalu banyak kenangan tentangmu di kepalaku. Tidak, bukan hanya tentangmu melainkan juga tentang kita. Minuman kesukaanmu. Makanan yang ingin kita makan bersama. Deretan tempat impianku yang katamu akan kita datangi satu persatu. Pertanyaan basa basi yang selalu terasa hangat meski memang hanya bersifat rutinitas. Pertanyaan yang tidak jarang hanya terkirim tanpa tahu kapan akan terbaca dan terjawab. Itu namanya perhatian, katamu. Kesibukan masing-masing yang tidak pernah menjadi alasan untuk menghilang. Penting tapi ga segitunyalah, katamu. Lelah seolah mampu terobati hanya dengan percakapan dini hari yang berisi lelucon yang itu-itu saja dan suara dengkuran halus yang tidak lagi tertahan di jam kesekian. Aku mengingat itu semua. Entah bagaimana denganmu. " Tahuuu buuulat... Digoreng da da kan! Lima ratusan, hangat-hangat! Nyauuuw..." Nyanyian...

Hey, Juli

Drrrrt…drrrrt Sebuah notifikasi tiba-tiba muncul dari handphonenya saat Juli baru saja mematikan lampu kamar dan ingin memejamkan matanya bersiap tidur. Diraihnya benda berbalut casing kuning polos yang memang terletak tidak jauh dari tempat tidurnya. Apa sih jam segini… “ Hey, Juli ” Satu pesan singkat yang hanya terdiri dari dua kata. Juli menyalakan lampu kamar dan terduduk di sisi tempat tidurnya, masih menatap layar handphone. Berulang-ulang dibacanya pesan tersebut seolah bisa membuat isinya bertambah. Dilihatnya nama sang pengirim pesan. Nama yang pernah begitu akrab. Nama yang pernah memenuhi kotak pesan dan riwayat panggilannya. Namun selama dua tahun terakhir, nama itu berubah menjadi asing. Hilang. Berganti ingatan berisi tanya, janji, rindu, apapun yang seolah bersahut-sahutan menghampirinya. Ingatan tentang hadiah ulang tahun yang belum sempat diserahkan. Ingatan tentang beragam kabar ini dan itu yang biasa dibagi bersama. In...

Tanggal Cantik

Tanggal satu bulan sebelas Hari ini kami pergi  piknik ke kebun binatang. Dia yang menyiapkan makanannya sementara saya yang membuat daftar makanannya. Hari ini kami menyatu dengan kerumunan orang yang bersiap untuk melihat-lihat dan berjalan-jalan. Saya kegirangan bermain balon tiup yang terbuat dari air sabun sementara dia berdiri kepanasan di antrean pembelian tiket masuk. Hari ini adalah idenya. Tempat ini dan tanggal ini. Hari ini mudah diingat katanya. Hari ini kami bersenang-senang. 🍂🍂🍂 Tanggal sepuluh bulan sebelas Hari itu kami tak lagi saling bicara. Hari itu saya masih mengingat piknik kami yang terakhir. Hari itu dia ada di pikiran saya. Tempat itu dan tanggal itu. Hari itu saya menemuinya dan mengajaknya berjalan-jalan sebentar. Kami menyusuri dermaga pinggir pantai sambil merasakan angin bertiup semaunya. Hari itu terakhir kalinya kami pergi bersama. Dia melangkah perlahan ke arah yang berlawanan sementara saya melihatn...

Kehidupan Netizen

          Selamat pagi. Jangan lupa bahagia! ^^ Setengah mengantuk kutekan tombol “tweet” di layar hp kemudian melempar telepon genggamku entah ke mana. Jam dinding berwarna kuning dengan motif telur mata sapi yang berada tepat di atas pintu masuk kamar menunjukkan pukul 8.00. Masih terlalu pagi untuk memulai hari , pikirku sambil berusaha meneruskan tidur yang terganggu. *** Cuaca yang terik membuatku merasa matahari bukan lagi bersinar, melainkan membakar kepalaku. Apalagi ketika harus berjalan kaki yang tentu saja bukan atas dasar kesehatan atau kesenangan menikmati sekitar, melainkan untuk menghemat ongkos yang sama dengan tarif satu jam pemakaian di warnet langganan. “Mas, paket biasa ya!” kataku pada operator warnet yang entah siapa namanya tapi berhubung sering ke sini sejak beberapa tahun lalu, mungkin tidak ada salahnya merasa kami sudah cukup akrab hingga ia sudah paham dengan apa yang kumaksud “biasa”. Ia menganggukkan kepalanya se...

The Call

I was stuck in my night class when I got your text. I read it twice. I checked the date and time. Just want to make sure that it was REALLY you. "Are you still having a class?" I stared at my phone for a while before making a reply. "Yup" A short one that led to a long call in the next hour. Personality, friend of friend, assignment, Nicole Kidman. That was our first call. 📞 It was the night after an overtime work, when I bought myself a pair of shoes as a reward. I was too busy picking up the size and model when my phone rang. It was you. I froze for a second and answered it happily. Where-are-you, aren't-you-going-home-yet, friend's wedding, partner. That was our second call. 📞 📞 Been too long for keeping this feeling and I couldn't hold it anymore. That might be okay to make such a confession with no intention. I just thought that you had to know. At least, they were things that pop...

A Birthday Tale

Ini adalah kisah yang terjadi di sebuah negeri bernama Kupiland, tepatnya di desa terpencil yang biasa dikenal sebagai zKupillage dengan penduduk aslinya yang disebut zKupillacious. Sesuai dengan namanya, desa ini merupakan penghasil utama terbesar kacang hijau. Selain menjadi makanan utama para penduduknya yang berjumlah 306 orang, kacang hijau juga diekspor sampai ke luar negeri seperti Yellowland, Republic of Purple, bahkan Indonesia. Tidak hanya terkenal sebagai bubur yang dimasak sesuai resep asli zKupillacious, masyarakat luar juga gemar menjadikannya sebagai bahan dasar membuat es krim atau jajanan pasar seperti kue ku dan bakpia. *** Suatu ketika seorang anak laki-laki berkacamata bernama Isaac (biasa dipanggil Aizek), yang sedang duduk di atas tumpukan daun kering sambil diam-diam memakan nasi goreng yang dipesannya lewat layanan pesanan antar dan mendengarkan lagu berjudul sama dengan warna kesukaannya yaitu Kuning dari band Rumahsakit, melihat sebuah pohon tinggi...

"I Met Her in The Funeral."

“I met her in a funeral.” Failed to remember the last time I heard your voice that clear. “I met her in a funeral.” Never thought that I would get hurt like this just to hear you talking about someone else. “I met her in a funeral.” Your smiling voice, those sparkling eyes… As you remembered that time you met her. “I met her in a funeral.” There were times when I saw you with other ones, looked happily, but this one was more suffocating. “I met her in a funeral.” Tell me more, I want to know. I met her in a funeral.” Here I am wondering if the word 'funeral' meant that I should bury all of my feelings to you.

Dari Aplikasi Turun Ke Hati

Bosan mengoceh di media sosial membuat saya terpikir mencari kesenangan dengan beralih ke aplikasi kencan dan pencari jodoh yang cukup populer. Sebenarnya saya tidak berharap apapun apalagi sampai memasang target untuk berkenalan bahkan hingga bertemu seseorang, tapi sepertinya tidak ada yang salah. Toh, siapa yang tahu... Ternyata keberuntungan saya di aplikasi ini cukup bagus. Sejak kemarin saya pertama kali membuat akun, sudah ada beberapa orang yang "cocok" dan kebetulan kesan pertamanya cukup menyenangkan untuk diajak mengobrol lebih lanjut. Orang yang pertama bernama Rino, seorang sutradara video klip yang juga sering menangani acara fashion show   hingga yang bertaraf internasional. Ya, saya sadar bahwa sepertinya dia terlalu keren untuk sekadar dijadikan teman bertukar pikiran perihal ini dan itu di kepala yang sebagian besar hanyalah berisi hal absurd. Ah, sudahlah. Siapa yang tahu... Orang yang kedua bernama Putra, seorang arsitek yang bar...

Happy Belated Birthday!

Lima menit yang lalu aku melihat sekilas ada amplop kuning terselip di lipatan bajuku saat sedang membuka lemari. Samar-samar aku berusaha mengingat apa isinya. Ternyata sebuah surat pendek, bertuliskan tulisan tanganku yang cukup rapi. Hari ini... Maaf karena tidak menepati janji untuk membelikan beberapa hal yang kau inginkan. Maaf karena tidak memungkinkan untukmu pergi ke tempat yang juga kau inginkan. Maaf karena seperti biasa kau harus menerima kenyataan bahwa kau memang terlupakan. Maaf karena lagi-lagi kau berbeda. Tidak apa-apa. Toh, ini bukan lagi hal hal baru. Tidak apa-apa. Bahkan, satu-satunya distraksimu bermasalah. Tidak apa-apa. Masih ada beberapa menit lagi, nikmatilah dalam kesendirianmu. Tidak apa-apa. Meski sulit, berjanjilah bahwa kau tidak akan menganggap hal ini sebagai hal besar. Tidak apa-apa. Kau tidak perlu memaksa untuk dapat bahagia, cukup lakukan yang terbaik sebisamu. Terima kasih untuk bertahan. Selamat...

Hello, Goodbye

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat beberapa menit saat aku memutuskan untuk pulang sehabis menonton film animasi yang kutunggu sejak lama dan kebetulan memang hanya tayang di bioskop ini. Sudah cukup larut, pikirku. Saat tiba di lantai tiga, mataku tertuju pada sebuah kedai kopi yang terletak di bagian pojok lantai ini dengan logo sebuah cangkir berwarna coklat tua . Itu adalah salah satu tempat kesukaanmu dulu. Apa sekarang pun masih? tanyaku dalam hati. Cukup lama aku memandangi tempat itu. Banyak yang berubah sejak terakhir kali aku masuk ke dalamnya beberapa tahun lalu. Sekarang mereka memperluas areanya hingga ke bagian depan dan juga mulai menjual kue dan roti. Warna coklat tua masih mendominasi ruangan dan juga seragam para karyawannya, namun kini mereka memberi nuansa kuning sebagai detail tambahan meja dan kursinya. Aku tersenyum mengingat dulu tempat ini begitu kecil dan sederhana. Kamu menyebutnya ekslusif karena memang keberadaannya tidak terlalu mencolok ...

Kuningnya Semangka, Ungunya Ubi

Di atas meja kecil beralaskan kertas kalender bekas yang terletak di agak di pojok ruangan, Semangka Kuning dan Ubi Ungu hidup berdampingan di atas dua keranjang besar berwarna merah keunguan. Mereka terpisah dari yang lainnya seperti Pisang Kepok, Pepaya California, Nanas Madu, dan Buah Naga yang berada di atas hamparan meja besar di tengah ruangan. *** “Mang…” Ubi Ungu membuka pembicaraan. Mungkin ia bosan karena sejak pagi tadi tidak ada yang menyentuh atau bahkan sekadar meliriknya. “Iya Bi…” jawab Semangka Kuning dengan tenang. “Enak ya mereka.” Sambil melayangkan pandangannya ke arah kerumunan orang yang sibuk memilih sambil sesekali menimbang-nimbang Pepaya dan Nanas, ia melanjutkan ucapannya. “kayanya tiap hari tidak pernah kesepian. Hidupnya bahagia.”. “Kenapa kamu harus merasa kesepian dan tidak bahagia?” “Ya buktinya sudah lebih dari sehari tidak ada yang berminat membeliku. Tentu saja orang-orang lebih memilih buah daripada ubi. Bahkan, para tukang ...

Kutukan Juli

Nama saya Juli dan ini sudah kesembilan belas kalinya saya gagal untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Tidak hanya hubungan pertemanan tapi juga percintaan. Rekor terlama saya dekat dengan orang lain adalah sekitar empat tahun yaitu semasa kuliah yang itupun tidak sepenuhnya bahagia. Terakhir kali saya takabur melabeli seseorang sebagai (calon terkuat) sahabat tapi ternyata lagi-lagi kandas. Menyedihkan. Kebetulan si korban –atau pelaku, entahlah- yang kesembilan belas ini adalah laki-laki dan statusnya pun hanya teman. Saya mengenalnya beberapa tahun lalu karena urusan pekerjaan dan hanya sempat bertemu satu dua kali tanpa sempat mengobrol banyak. Kedekatan di antara kami justru muncul saat kami sudah tidak lagi berhubungan secara profesional. Berawal dari saling menambahkan sebagai teman di salah satu media sosial dan berakhir dengan chatting seputar ini itu. Seperti yang dikatakan oleh salah satu lagu lawas, mulanya biasa aja. Dia kerap membuka obrolan dengan perih...