Sinar matahari yang biasanya membelai lembut permukaan kulit, entah kenapa hari ini seolah membakar bolak-balik sekujur tubuh. Terasa panas dan terik, bukan hangat. Ditambah lagi sudah seminggu pendingin ruangan di tempat ini rusak sehingga membuat pintu harus selalu dibuka dalam rangka menjaga sirkulasi udara, dan kenyamanan tentunya. Jam dinding berlogo salah satu merek rokok yang tergantung di sudut ruangan belum menunjukkan pukul tujuh pagi tapi seolah saat ini sudah lewat tengah hari. Aku rasanya butuh menceburkan diri ke kolam air dingin. Terlalu gerah. Dari tempatku di pojok ruangan aku melihat sehelai kain setengah basah yang baru saja dicuci sedang dijemur di area depan dekat pintu masuk. Melihat tetesan airnya membuatku ingin membaringkan diri di bawahnya. Terlihat sejuk. Ah, sepertinya aku terlalu banyak mengkhayal pagi ini sampai tidak memperhatikan keadaan di sekelilingku yang mulai memperlihatkan tanda-tanda kesibukan. Rupanya sudah pukul delapan. Perke...
Juli merobek lembaran kalender bertuliskan angka dua sembilan di depannya. Dua sembilan kesekian sejak hari itu, pikirnya. Ia terdiam lama dan terlihat sedih. Tangannya mulai bergetar, meremuk kencang gumpalan kertas kecil itu. Tanggal dua sembilan seakan menjadi mimpi buruk bagi Juli. Hari di mana ia mengetahui bahwa orang yang selama lima tahun mendampinginya ternyata sudah mengkhianati hubungan mereka. Hatinya hancur berantakan. Mimpinya untuk memiliki keluarga harmonis seolah kandas bahkan yang lebih ironis saat mereka sedang berencana memilliki keturunan. Juli mengambil album foto berwarna hitam dengan aksen keemasan dari laci meja di sudut ruang tengah. Album pernikahannya. Dua sembilan pertama saat saling mengikat hati, bertukar janji, penuh senyum dan doa baik. Ia terdiam lama dan terlihat bahagia. Tangannya mulai bergetar, membalik satu demi satu lembaran foto di dalamnya. Tanpa sadar, air matanya menetes. Tanggal dua sembilan sudah tidak lagi terasa sama bagi Juli. Sama seper...
Suara di kepala bersahut-sahutan. Berisik sekali. Meminta untuk melakukan banyak hal yang harus, yang belum pernah, dan yang sudah lama tidak. Terlalu malas untuk suatu keharusan. Terlalu overthinking untuk sesuatu yang baru. Terlalu takut untuk kembali pada yang dulu pernah. Kali ini satu suara menang. Salah. Kali ini suara-suara itu menjadi satu. Sebuah keharusan untuk memulai hal baru setelah sekian lama tidak. Kembali menulis. Iya, harus dimulai lagi karena isi di kepala banyak yang layak keluar lewat kata-kata. Entah nanti statusnya sebatas draft yang tersimpan, menunggu untuk dihapus atau sebagai sebuah post yang dilihat untuk dibaca oleh orang lain. Lalu, apa yang baru? Mungkin tidak ada. Masih panjang lebar melibatkan perasaan (yang sepertinya tidak sesuram dulu) dan bukan sekadar kata-kata bersayap demi untuk dalam rangka. Oh ada sih, ini akan menjadi tulisan pertama tahun ini dan di umur yang baru. Bisa kan? Such a nice one to have something posted right in a certain mo...
Comments
Post a Comment