Posts

Hello, Goodbye

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat beberapa menit saat aku memutuskan untuk pulang sehabis menonton film animasi yang kutunggu sejak lama dan kebetulan memang hanya tayang di bioskop ini. Sudah cukup larut, pikirku. Saat tiba di lantai tiga, mataku tertuju pada sebuah kedai kopi yang terletak di bagian pojok lantai ini dengan logo sebuah cangkir berwarna coklat tua . Itu adalah salah satu tempat kesukaanmu dulu. Apa sekarang pun masih? tanyaku dalam hati. Cukup lama aku memandangi tempat itu. Banyak yang berubah sejak terakhir kali aku masuk ke dalamnya beberapa tahun lalu. Sekarang mereka memperluas areanya hingga ke bagian depan dan juga mulai menjual kue dan roti. Warna coklat tua masih mendominasi ruangan dan juga seragam para karyawannya, namun kini mereka memberi nuansa kuning sebagai detail tambahan meja dan kursinya. Aku tersenyum mengingat dulu tempat ini begitu kecil dan sederhana. Kamu menyebutnya ekslusif karena memang keberadaannya tidak terlalu mencolok ...

Drama Kori VS Drama Korea

Tahun lalu seorang teman sering sekali bercerita tentang sebuah kisah drama dari Korea yang saat itu memang sedang ramai dibicarakan. Ia selalu bersemangat menggambarkan betapa luar biasanya pesona para aktor dan aktrisnya serta jalan cerita yang dimiliki. Melihat saya yang begitu datar dan malas berkomentar membuatnya memaksa saya untuk menonton beberapa judul dan dengan sangat yakin berkata bahwa saya pasti menyukainya. Sebenarnya sudah cukup lama sejak terakhir kali saya menonton kisah-kisah drama karena saya merasa sehari-hari sudah terlalu penuh untuk ditambah dengan satu kegiatan lagi. Selain itu rasanya saya bukan termasuk orang yang betah duduk berlama-lama memandang layar. Siapa sangka, akhirnya saya mengikuti juga keinginannya dan untungnya semua yang direkomendasikannya memang menyenangkan. Tentunya bohong jika saya bilang tidak tertarik dengan tampilan fisik para pemain di tiap cerita yang saya tonton tapi sepertinya justru yang sangat mencuri perhatian saya adalah...

Help Me, I'm Trapped!

Apa yang lebih menyedihkan dari keharusan menjalani sesuatu yang yang tidak diinginkan atau disukai? Sebuah pertanyaan yang mungkin jawabannya adalah kehidupan saya belakangan ini. Hambar. Entah apa gunanya hidup dan apa yang mau saya lakukan dalam hidup. Saya tidak tahu dan sepertinya tidak pernah ada juga yang merasa perlu memberi tahu. Rasanya seperti berdiri di tengah jalan raya yang dilalui orang banyak. Mereka terlihat sibuk, terburu-buru, berjalan santai, berpegangan tangan, bermain handphone , mengobrol, tertawa, menikmati makanan dan minuman, membawa belanjaan atau binatang peliharaan., dan lain sebagainya. Sementara saya diam, terlewati sambil sesekali tersenggol tanpa ada yang mau repot-repot meminta maaf atau bahkan menoleh sekilas. Beberapa kali saya memberi jalan buat mereka atau membantu menopang saat tiba-tiba mereka terpeleset atau kerepotan dengan bawaannya. Akan tetapi lagi-lagi sepertinya tidak ada yang mau meluangkan sedikit waktunya mengucapkan terima kasih a...

Kuningnya Semangka, Ungunya Ubi

Di atas meja kecil beralaskan kertas kalender bekas yang terletak di agak di pojok ruangan, Semangka Kuning dan Ubi Ungu hidup berdampingan di atas dua keranjang besar berwarna merah keunguan. Mereka terpisah dari yang lainnya seperti Pisang Kepok, Pepaya California, Nanas Madu, dan Buah Naga yang berada di atas hamparan meja besar di tengah ruangan. *** “Mang…” Ubi Ungu membuka pembicaraan. Mungkin ia bosan karena sejak pagi tadi tidak ada yang menyentuh atau bahkan sekadar meliriknya. “Iya Bi…” jawab Semangka Kuning dengan tenang. “Enak ya mereka.” Sambil melayangkan pandangannya ke arah kerumunan orang yang sibuk memilih sambil sesekali menimbang-nimbang Pepaya dan Nanas, ia melanjutkan ucapannya. “kayanya tiap hari tidak pernah kesepian. Hidupnya bahagia.”. “Kenapa kamu harus merasa kesepian dan tidak bahagia?” “Ya buktinya sudah lebih dari sehari tidak ada yang berminat membeliku. Tentu saja orang-orang lebih memilih buah daripada ubi. Bahkan, para tukang ...

Kutukan Juli

Nama saya Juli dan ini sudah kesembilan belas kalinya saya gagal untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Tidak hanya hubungan pertemanan tapi juga percintaan. Rekor terlama saya dekat dengan orang lain adalah sekitar empat tahun yaitu semasa kuliah yang itupun tidak sepenuhnya bahagia. Terakhir kali saya takabur melabeli seseorang sebagai (calon terkuat) sahabat tapi ternyata lagi-lagi kandas. Menyedihkan. Kebetulan si korban –atau pelaku, entahlah- yang kesembilan belas ini adalah laki-laki dan statusnya pun hanya teman. Saya mengenalnya beberapa tahun lalu karena urusan pekerjaan dan hanya sempat bertemu satu dua kali tanpa sempat mengobrol banyak. Kedekatan di antara kami justru muncul saat kami sudah tidak lagi berhubungan secara profesional. Berawal dari saling menambahkan sebagai teman di salah satu media sosial dan berakhir dengan chatting seputar ini itu. Seperti yang dikatakan oleh salah satu lagu lawas, mulanya biasa aja. Dia kerap membuka obrolan dengan perih...

Everything Is Not That Important, Everyone Is

Dilihat itu menyenangkan Berbahagialah jika di luar sana ada seseorang yang melihatmu sebagai seseorang yang penting. Mungkin kamu tidak selalu menjadi yang utama dalam segala hal, tapi kamu tahu betul bahwa kamu tidak akan pernah sendiri. Dia ada. Dia melihatmu tertawa bahkan menangis. Dia melihatmu bercerita tentang apapun bahkan saat kamu memilih diam. Dia melihatmu merangkai mimpi, mengejar, dan meraihnya bahkan saat ternyata harus jatuh. Dia melihatmu ada bahkan saat di mata dunia kamu seolah tidak pernah ada. Bersyukurlah jika selama ini dia ada dan melihatmu. Rasanya menyenangkan, bukan? Diingat itu menyenangkan. Berbahagialah jika di luar sana ada seseorang yang mengingat hal-hal kecil baik yang kamu suka maupun tidak padahal itu bukanlah sesuatu yang penting dan bahkan kamu sendiri sudah lupa saat mengatakannya. Ingatan sederhana seperti ajakan menonton film kartun karena belum lama kamu bilang butuh lebih banyak tertawa. Ingatan sederhana...

A (Not So) Secret Admirer, Just A Serious Observer

"I always interpret coincidences as little clues to our destiny." - Ann Brashares I used to hide and watch you from a distance Aku menyukaimu bahkan sebelum kita saling bersalaman dan saling menyebut nama masing-masing. Sejak pertama kulihat kamu di tengah keramaian kantin kantor saat jam makan siang. Sejak pertama kuperhatikan kamu tidak seriuh dan seramai teman-teman semejamu yang lain. Sejak pertama kusadar kamu jarang sekali terlihat berbicara apalagi tertawa di tempat umum. Beberapa kali kulihat hanya sekadar senyum tipis yang kamu keluarkan sebagai respons saat berkomunikasi. Sejak pertama kutahu bahwa ternyata kita bergabung di komunitas yang sama. I was looking for a time to get closer at least to say hello Awalnya aku pikir akan lebih mudah berkenalan dengan orang yang pendiam karena tidak perlu takut dibuat salah tingkah saat harus bertemu lagi. Aku salah. Ternyata sangat sulit saat harus memulainya denganmu. Ternyata ...