#LingkarTulisan - end



Naldo

Selama ini gue pikir keajaiban itu cuma mitos. Sampe akhirnya sekarang gue ngeliat sendiri apa yang gue alamin tiga bulan terakhir. Sejak pertama kali denger dari Pak Ben tentang pemindahan kepemilikkan deretan ruko yang salah satu di antaranya adalah warnet gue, jujur aja gue bingung harus gimana. Bisa dibilang beberapa malem sesudahnya yang ada di pikiran gue cuma dia. Bukan, bukan Pak Ben atau pemilik kontrakan baru melainkan nasib warnet ini. Tempat gue ngabisin hampir separuh hidup gue empat tahun terakhir. Tempat gue nerapin ilmu komputer seadanya yang gue dapet pas kuliah meski cuma sampe semester 5. Tempat gue bisa ketemu dan kenal banyak orang yang udah gue anggep temen, sahabat, bahkan keluarga sendiri.

Gue masih inget kejadian kira-kira sebulan lalu pas warnet lagi sepi, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu paruh baya yang masuk.

“Selamat siang!” sapa ibu itu dengan suara kalem.

“Eh, iya. Siang Bu. Bisa dibantu?” gue yang saat itu lagi asik ngebales WhatsApp dari calon pembeli komputer berikutnya sempet kaget juga. Yaiyalah, emaknya siapa coba ni gaul banget main ke warnet siang bolong.

“Kamu pemilik warnet ini?” tanya si ibu kalem, kali ini sambil tersenyum.

“Betul Bu, saya Naldo. Ada apa ya kalo boleh tau?” tanpa bermaksud alay dengan pertanyaan gue ke dia, sebenernya kepo juga liat si ibu kalem ini yang sejak tadi tampak misterius.

“Saya Laras, istri dari mendiang Pak Kartono, pemilik deretan ruko di sini,” si ibu kalem memperkenalkan dirinya dengan tenang, kebalikan dari gue yang mendadak senewen campur deg-degan menerka-nerka maksud kedatangannya. Jujur aja saat itu gue masih belum siap ngadepin worst case dalam bentuk harus pindah.

“Oh iya Bu, ada apa ya?” ketiga kalinya ngasih pertanyaan serupa dan seketika gue merasa bodoh-banget-seolah-namanya-juga-cuma-kang-warnet.

To the point aja ya Naldo, maksud kedatangan saya ke sini mau kasih tau bahwa saya ada rencana sedikit melakukan perubahan dengan renovasi di beberapa ruko yang keliatannya mulai usang. Mungkin nantinya kalo kamu berminat bisa sekalian rombak warnet ini dengan split ruangan jadi smoking dan nonsmoking. Gimana menurut kamu?” si ibu kalem tiba-tiba mencerocos dan mengiming-imingi gue yang lagi galau ini dengan tawaran menarik.

Singkat cerita gue dikasih waktu tiga hari untuk memberikan jawaban. Tentu aja gue bilang iya untuk rencananya itu, dengan tiga alasan. Satu, renovasi dilakukan serempak di waktu yang ditentukan bersama sehingga masing-masing ruko tidak perlu tutup dalam waktu lama. Dua, tidak ada  kenaikan biaya sewa. Tiga, yang paling mengejutkan, Bu Laras ternyata adalah mamanya Nana. Iya, Nana si cewe cempreng. Tidak hanya itu, Nana ternyata memiliki saudara kembar yang sejak lahir terpisah. Dialah “Meriva” gue, Nada. Pantesan dulu pas gue liat foto profil blog Nana terkesan familiar.

See, apa gue masih berani bilang keajaiban itu mitos?

Suatu hari pas proses renovasi berlangsung, Bu Laras datang ditemenin kedua anaknya yaitu Nana dan Nada. Gue kaget. Mereka apalagi.

“Naldo, kenalin ini anak-anak saya. Mereka kembar, yang ini Nana dan di sebelahnya itu Nada.”gue yang lagi serius ngeliatin proses kerja bareng bang mandor langsung pucet pas liat dia, sosok mungil berkacamata dan berambut pendek yang dulu pernah hadir di masa lalu. Dia, “Meriva” yang selama ini hidup di blog gue, saat ini berdiri di hadapan gue dan terlihat sedikit terkejut juga. Dia, Nada Ilvy Meriva.

“Apa kabar, Naldo?” ah, senyum itu.

Halo, kenalin nama gue Naldo. Panggil aja GagalMoveOn.

“B…baik Nada.” hanya itu yang bisa keluar dari mulut gue saat itu. Meski dalam hati gue bertekad kehadiran Nada di hari-hari berikutnya akan membuat semuanya jauh lebih baik lagi.

Untuk kali ini gue setuju dengan quote alay yang sempet jadi DP BBM Bang T-J waktu itu yang bilang kalo cinta itu bagai pasir di pantai, semakin kuat kita genggam maka justru akan semakin terlepas.” Iya, kadang quote semacam itu ada benernya juga.

Gue yakin, ini semua terjadi agar gue bisa ngejalanin hari-hari dengan lebih baik lagi. Meskipun hidup nggak seperti film Disney yang selalu berakhir bahagia, tapi seenggaknya, jika gue nggak punya akhir yang bahagia, gue bisa bahagia saat ini. Gue masih selalu berharap ada orang tua yang bisa memberikan gue nasihat tiap malam, menyemangati saat gue dalam kesusahan, dan memberikan kasih sayang yang udah lama nggak gue dapatkan.


Nana

Gue nggak tau harus seneng atau sedih sama apa yang baru aja melanda hidup gue di tiga bulan terakhir. Bokap yang sejak lahir ke dunia ini nggak gue kenal kaya apa ternyata menyapa gue dalam bentuk lembaran surat wasiat dan pesan terakhir.

“Mendiang Pak Kartono meminta saya memberikan surat wasiat ini kepada Ibu Laras dan Mbak Nana sesuai permintaan terakhir beliau sebelum meninggal dunia,” gue masih inget kata-kata pengacaranya bokap saat itu.

“Selain rumah yang selama ini beliau tempati, beliau juga mewariskan deretan ruko yang terdiri dari warnet, minimarket, dan beberapa kedai makanan. Khusus untuk ruko hak warisnya dibagi tiga yaitu untuk Ibu Laras, Mbak Nana, dan putri beliau yang satunya, Mbak Nada. Kebetulan dia sekarang kerja di Bandung jadi tidak bisa hadir.”

(((putri beliau satunya)))

Gue cuma melotot kaget ke si pengacara sebelum gue liat nyokap di sebelah gue yang berkaca-kaca kelihatan banget menahan emosinya.

“Ma…”

“Iya, Na. Mama minta maaf. Sebenernya kamu punya saudara kembar, namanya Nada,  tapi saat itu kami sepakat bahwa dia akan ikut dengan Papamu. Maafin Mama yang udah nggak jujur sama kamu,

Saat itu gue bengong sambil menenangkan nyokap yang menangis histeris di pelukan gue. Selama ini gue masih punya bokap dan gue bukan anak tunggal.

Kecewa, marah, sedih, seneng, entah gimana perasaan gue saat itu.

Satu hal yang gue tau harus lakuin adalah, kasih tau ini semua ke Naldo selaku salah satu pemilik warnet yang ada di ruko bokap.

Pagi itu gue nggak jadi ngomong ke Naldo karena tau-tau ada Rian. Dia operator malem di warnet Naldo yang belakangan emang kita lagi deket banget. Mungkin kita sama-sama nyaman satu sama lain tapi ya entahlah, gue nggak berani mengharap apa-apa juga selama dianya nggak ada ngomong apa-apa.

Perlahan gue dan Nada mulai deket dan sumpah demi apa ternyata kakak-selisih-sepersekian-menit gue ini adalah mantannya Naldo. Gue penasaran sih apa Nada tau kalo selama ini dia adalah tokoh utama di balik kegalauan Naldo. Ha!

Gue masih sering main sama Meriva, si nomer dua puluh yang keukeuh banget nggak bakal dijual sama Naldo. Meski sebenernya sekadar modus aja sih biar ketemu Rian. Ya, biar gimana pun juga berkat dia dan warnet inilah gue bisa ketemu dan ngalamin banyak perubahan dalam hidup gue.

Well, semua yang terjadi emang nggak pernah ada di bayangan gue sama sekali bahkan kepikiran aja nggak. Tapi mungkin kadang di situ enaknya ngejalanin hidup, nggak terlalu pusing mikirin mau ini itu.

Gue bahagia dan bersyukur dengan hidup gue saat ini. Itu aja rasanya cukup. Dan gue percaya, selalu ada rentetan keajaiban di dalam harapan.

Selalu ada datang setelah pergi.
Selalu ada.

Bentar, kenapa gue jadi bijak?!


Meriva

Banyak hal yang berubah selama tiga bulan terakhir. Perubahan yang mungkin awalnya tidak sesuai dengan keinginan namun tetap harus dijalani. Tentang deretan ruko yang ternyata tidak jadi dibongkar bahkan justru direnovasi besar-besaran oleh sang pemilik baru. Tentang warnet Naldo yang kini diperluas karena dibagi menjadi dua area, smoking dan nonsmoking. Tentang aku yang tidak lagi menjadi komputer operator tetapi kembali ke posisi awalku yaitu si nomor dua puluh di pojok ruangan, dengan nama baru yaitu Meriva. Tentang Naldo dan Nana yang menemukan (kembali) cintanya lewat potongan kisah di blog melalui sosok komputer pemikir dan melankolis. Tentang masa lalu yang tiba-tiba datang menyergap dan masa depan yang seolah terlihat mengintip malu-malu.

Awalnya aku pikir mengenal manusia itu sebatas memahami bahwa mereka memang (akan) datang dan pergi begitu saja. Kedatangan yang tidak selalu diharapkan serta kepergian yang tidak perlu disesalkan. Sampai ketika aku merasa memiliki ikatan dengan mereka. Mungkin bisa dibilang aku terlalu berlebihan, tetapi memang sedikit banyak ada semacam kehausan dalam diriku akan kehadiran mereka setiap harinya. Entah apa ini yang dinamakan dengan ketergantungan.

Awalnya aku bersikap biasa saja dengan mereka yang datang mengisi kekosonganku. Mereka yang berusaha memuja eksistensi, mencari pemuas fantasi, atau mengenal diri tidak hanya dari satu sisi. Sampai aku bertemu dengan orang-orang yang seolah mengajakku ikut merasakan apa yang mereka alami, meski hanya dalam hitungan menit atau jam. Mereka mengizinkanku melihat kekecewaan, kesedihan, kebahagiaan, apapun rasa yang mereka punya lewat mata yang selalu menatapku.

Awalnya aku kira Nana dan Naldo adalah pasangan yang ditakdirkan oleh semesta hanya saja masih butuh waktu untuk saling menemukan. Terlalu banyak kebetulan yang rasanya membuatku tak sabar ingin melihat mereka berdua bahagia bersama. Sampai aku lupa bahwa menebak jalan takdir seseorang tidak semudah menebak jalan sinetron di layar kaca yang hampir tiap malam menjadi tontonan kesukaan Rian. Sampai aku lupa bahwa bahagia meski tidak bersama adalah jauh lebih baik daripada melihat mereka bersama namun tidak bahagia.

Siapa sangka, nama “Meriva” yang sering aku baca di blog Naldo tiba-tiba muncul begitu saja di hadapan dalam sosok nyata. Ia, si perempuan mungil berambut pendek dan berkacamata tidak hanya potongan kisah dari masa lalu Naldo, tapi juga salah satu putri pemilik ruko sekaligus adalah saudara kembar Nana yang terpisah sejak mereka lahir.

Pikiranku melayang ke potongan-potongan kejadian selama beberapa bulan terakhir di warnet ini.

Teringat pertama kali berjumpa dengan Pak Kartono yang saat itu tengah menahan beban teramat berat akibat vonis dokter tentang sakit kanker yang dideritanya sehingga ia harus “berpamitan” dengan istri dan kedua putri kembarnya melalui sebuah surat.

Teringat Nana dan Naldo yang masing-masing terbuai dengan rangkaian kata di blog, yang satu tenggelam dalam rasa penasaran dan kekaguman sementara yang lain sibuk merawat luka masa lalu.

Teringat kabar berpindahnya hak kepemilikkan deretan ruko yang membuat Naldo sempat gegabah dan terpaksa merelakan beberapa asset warnet terjual.

Ternyata selama ini semua bagaikan kepingan puzzle yang saling berhubungan satu sama lain.

Semuanya tidak hanya datang dan pergi.

Mereka (akan) berubah.

Kecuali aku yang selalu diam.

Menunggu siapapun datang, menemani, untuk selanjutnya merelakan mereka pergi.

Aku adalah komputer warnet si nomor dua puluh.

***

Hari ini tepat seminggu setelah warnet gue kembali beroprasi, gue menambahkan beberapa komputer baru, dan memasang jaringan internet lebih kencang. Pukul 8 pagi emang jadi waktu paling favorit gue, karena pengunjung belum ramai, bahkan kadang nggak ada, dan gue masih bisa menghisap Marlboro putih serta menyeruput kopi hitam di depan warnet.

Mobil Fortuner TRD Sport berwarna putih tiba-tiba berhenti di depan warnet gue. Nggak mungkin kan, orang bawa mobil sekeren itu mau main komputer warnet. Tunggu dulu, apa jangan-jangan itu adalah tim uang kaget yang akan ngasih gue uang 20 juta dan harus dihabiskan dalam waktu 10 menit? Ah kalau gitu gue bakal beli motor baru aja deh, tuker tambah sama motor lama. Ini kenapa gue malah mengkhayal.

Terdengar suara pintu mobil yang kebuka, tapi gue masih asyik berkutik dengan handphone gue. Gue masih scroll-scroll akun instagram-nya Pevita Pearce sama Chelsea Islan. Penyegaran di pagi hari lah. Lalu tiba-tiba, suara gagang pintu gerbang gue yang dibenturkan ke tiang gerbang, dan dari depan gerbang gue ngeliat dua orang berdiri di sana. Perempuan dan laki-laki. Lebih tepatnya, nyokap gue bersama seorang laki-laki. Gue terpaku. Gue cuma bisa diem ngeliat ke arah mereka. Rokok gue jatuh.

“Naldo, Ibu dan Ayah, pulang....”




“You can’t describe life. You just live.”

Comments

Popular posts from this blog

A (Not So) Secret Admirer, Just A Serious Observer

#LingkarTulisan: Nomer Dua Puluh

Hati-hati, Hati!