Posts

Showing posts from September, 2016

I Can't Remember To Forget

Lupa kapan terakhir keluar rumah di akhir pekan atau sepulang kerja hanya untuk sekadar menonton film di bioskop, makan dan berbincang tentang ini itu, (tidak sengaja) membeli barangtidak berguna lucu, atau apapun dalam rangka melepas lelah, memanjakan diri, dan bersosialisasi.
Lupa kapan terakhir berbicara, mengobrol, bercerita dengan orang yang (mau) mengerti kerumitan dan kegilaan di kepala baik lewat tatap muka maupun secaraonline.
Lupa kapan terakhir hanyut dalam sebuah dunia sendiri yang tercipta lewat sebuah kesenangan akan hobi dan mimpi yang dirangkai diam-diam.
Lupa kapan terakhir dibuat salah tingkah oleh sebuah balasan pesan atau sapaan singkat dari seseorang.
Lupa kapan terakhir merasa bahwa hidup itu sangatlah menyenangkan seolah masalah hanya berkisar menentukan mau makan apa-dimana-dengan siapa, informasi terbatas tentang artis kesukaan, atau pakaian apa yang ingin dikenakan esok hari.
Lupa.
Menyadari jika ini tidak hanya tentang waktu tapi juga rasa.
Lupa.
Mencoba mengingat t…

When I Cry

One night on July A million of bunnies cry I asked in a hurry, why But seems like they are too shy
Days and weeks fly Here I am, sit alone and cry A million of bunnies are passing by But none ask me why

Sebuah Playlist

Saat itu kami sedang berada di perjalanan pulang sehabis dari acara pernikahan seorang teman.
Beberapa kali dia mengganti lagu yang terputar secara acak dengan alasan terlalu berisik, tidak jelas, atau terlalu berat. Entahlah. Aku hanya memandanginya seraya tertawa karena aku tahu dia tidak serius dengan semua komentarnya. Bagaimanapun juga ini mobilnya dan itu semua adalah pilihan lagunya sendiri.
Apa mungkin dia salah tingkah karena ini pertama kalinya kami pergi bersama?
Ok, aku tahu itu terlalu berlebihan.
"Denger radio aja deh ya.."
Tak lama kemudian,
"Ah, sama aja. Ga ada yang enak." Dia pun menyerah dan mematikannya. "Ngobrol aja deh, ngobrol."
"Kapan-kapan aku mau dibuatkan playlist berisi lagu-lagu yang kamu suka." Aku mencoba membuka percakapan.
"Hmm.."
"Eh, jangan deh. Maksudku lagu-lagu yang menurutmu enak."
"Hmm.. Apa bedanya?"
"Karena lagu yang kamu suka belum tentu enak untuk orang lain. Ahaha.."
"…

Kita

Dia duduk di situDia menyukai bisu Dia mengumbar ragu
Sementara
Aku di tempatku ada Aku membenci jeda Aku memuntahkan tanya
Padahal
Kamu yang selalu di sini Kamu menyingkirkan sepi Kamu menunggu hati

Tak Perlu Sayang Untuk Sekadar Kenal

Orang bilang tidak ada kata terlambat untuk apapun. Apa ini berlaku juga perihal perkenalan?
Saat kita tertarik dengan sesuatu atau seseorang tapi kita tidak tau cara untuk memulai yang namanya perkenalan, apa yang harus dilakukan? Menunggu? Mengikhlaskannya begitu saja? Bagaimana? Kita bahkan tidak tahu dalam hitungan detik ke depan apa yang akan terjadi dengan kita, dengan hal atau orang tersebut. 
Biar itu jadi bahan pikiran masing-masing atau mungkin kalau ada kesempatan jadi bagian tersendiri di blog ini nantinya.
Anggap aja postingan ini sebuah perkenalan. Alasan tadi di awal saya menyinggung soal filosofi terlambat, karena memang ini sudah postingan kesekian bukan pertama.
Menulis dan membaca bukan hal baru buat saya. Saya sudah (pernah) terbiasa menuangkan isi hati dan khayalan ke dalam tulisan, juga menghabiskan berjam-jam di saat sibuk atau luang untuk membaca.
Beberapa tahun lalu pun sebenarnya sudah cukup sering menulis di blog tapi apa daya keterbatasan waktu dan fasilitas memb…