Tentang Hujan

Aku tidak suka hujan.

Entah kenapa, pokoknya aku tidak suka hujan.

Banyak orang di luar sana yang melabeli dirinya sebagai pencinta hujan.

Aku tidak tahu definisi cinta yang mereka maksud.
Apa saat hujan datang mereka akan begitu gembira?
Apa saat hujan berhenti atau tidak turun mereka akan bersedih atau merindukannya semikian rupa?

Aku tidak tahu cara mereka mengekspresikan cintanya terhadap hujan.
Apa mereka selalu menyambut hujan dengan menari bebas?
Apa mereka sekadar merangkai sajak berisi kata-kata indah?

Aku tidak tahu apa yang dimiliki hujan sehingga banyak orang yang begitu mencintanya.
Apa karena aroma petrichor yang katanya bisa menenangkan?
Apa karena suara tetesannya yang seolah meredam bising di pikiran?

Hujan, terlebih yang turun saat aku sedang berada di luar rumah, hanyalah membawa kerepotan dan kepanikan.
Aku tidak suka jika harus naik-turun kendaraan umum atau berjalan di tengah hujan.
Aku tidak suka mereka yang selalu menganggap selama ada payung maka semua akan baik-baik saja.
Aku tidak suka suara hujan yang selalu membuatku panik bahkan mampu mengalahkan suara radio yang kudengarkan melalui earphone.

Akan tetapi, tidak adil rasanya jika aku membenci hujan secara sepihak seperti itu.
Pelan-pelan aku mulai belajar menerima kehadiran hujan yang bisa datang kapan saja.

Aku tetap tidak suka hujan tapi paling tidak kehadirannya terkadang bisa menjadi sekadar basa-basi pembuka percakapan yang cukup wajar dengan orang asing.
Aku tetap tidak suka hujan tapi paling tidak aku bisa lebih tenang saat harus basah kuyup di jalan.
Aku tetap tidak suka hujan tapi paling tidak suaranya yang bising mampu menghindarkanku dari sepi atau sekadar keharusan untuk berbincang dengan orang yang ada di sekitar.


Satu lagi, hujan atau tidak, tidur tetap menjadi hal yang sangat kusuka. 


Comments

Popular posts from this blog

A (Not So) Secret Admirer, Just A Serious Observer

#LingkarTulisan: Nomer Dua Puluh

Hati-hati, Hati!