Sebuah Playlist

Saat itu kami sedang berada di perjalanan pulang sehabis dari acara pernikahan seorang teman.

Beberapa kali dia mengganti lagu yang terputar secara acak dengan alasan terlalu berisik, tidak jelas, atau terlalu berat. Entahlah. Aku hanya memandanginya seraya tertawa karena aku tahu dia tidak serius dengan semua komentarnya. Bagaimanapun juga ini mobilnya dan itu semua adalah pilihan lagunya sendiri.

Apa mungkin dia salah tingkah karena ini pertama kalinya kami pergi bersama?

Ok, aku tahu itu terlalu berlebihan.

"Denger radio aja deh ya.."

Tak lama kemudian,

"Ah, sama aja. Ga ada yang enak." Dia pun menyerah dan mematikannya. "Ngobrol aja deh, ngobrol."

"Kapan-kapan aku mau dibuatkan playlist berisi lagu-lagu yang kamu suka." Aku mencoba membuka percakapan.

"Hmm.."

"Eh, jangan deh. Maksudku lagu-lagu yang menurutmu enak."

"Hmm.. Apa bedanya?"

"Karena lagu yang kamu suka belum tentu enak untuk orang lain. Ahaha.."

"Aku tidak bilang mau ya.."

"Hmm.."

Semoga jalanan macet total! Berulang-ulang aku mengucapkan hal ini dalam hati dengan penuh kesungguhan layaknya sebuah doa yang diyakini akan terkabul.

Nasibku kurang bagus. Jalanan lancar dan hanya butuh kurang dari satu jam untuk sampai di rumahku.

Dia turun dari mobil dan menungguku masuk ke dalam rumah.

"Makasih ya. Hati-hati!" Aku melambaikan tangan, setengah berharap dia akan mengatakan sesuatu seperti yang sering kulihat di film romantis.

"OK. Sama-sama." Dia pun segera berbalik masuk ke dalam mobil dan pergi.

"Telepon aku jika kamu sudah sampai di rumah." Kataku pelan dan tentu saja tidak terdengar olehnya.

***

"Ini buatmu." Dia menyerahkan sebuah CD berwarna hijau padaku sambil tersenyum.

"Apa ini?" Tanyaku bingung. Padahal sejujurnya aku tidak terlalu ambil pusing apa isinya, ajakan makan siang darinya hari ini sudah lebih dari cukup untuk membuatku senang.

"Dengerin aja."

Dasar misterius, pikirku.

"Oooooo... playlist ya? Makasiiiiih.." Rasanya aku ingin segera memasangnya di warung soto tempat kami makan saat ini. Tidak, aku akan mendengarkannya sendiri terlebih dahulu. "Apa kamu juga menyanyikan satu dua lagu di dalamnya?"

"Tidak kok. Hanya saja jangan kaget kalau nanti di tiap pergantian lagu kamu mendengarkanku berbicara sesuatu seperti di lagu zaman dulu" Katanya dengan wajah serius tapi sekilas kulihat dia menahan senyum.

Aku tertawa.

Kebiasaan baru saat aku mulai mengenalnya.

...dan ternyata itu menyenangkan.

***

Sesampainya di rumah, aku segera menyetel CD yang sejak tadi hampir tak lepas dari genggamanku. Anggap saja ini hadiah darinya. Hadiah pertama. Semoga bukan yang terakhir. Sengaja tidak kudengarkan sampai habis di tiap lagu karena aku penasaran dengan isi keseluruhannya. Aku tidak bisa menahan senyumku bahkan tertawa terbahak menahan kesal sejak lagu pertama, kedua, dan seterusnya. Tidak ada bagian spoken seperti yang dia bilang, tapi pilihan dan susunan lagunya buatku sangat menarik. 

Di awal dia mengisi playlist dengan lagu-lagu beraliran blues seperti Ray Charles, B.B. King, dan Alison Krauss tapi di pertengahan dia memasukkan beberapa lagu lawas dari dalam negeri seperti Bimbo, Benyamin Sueb, hingga Adrian Adioetomo. Beberapa lagu terakhir diisi dengan lagu-lagu yang sedikit keras seperti Bruce Dickinson, Damn Yankees, dan Heart.

***

Dua tahun berlalu sejak terakhir aku melihatnya bersama seorang perempuan di foto yang diunggah seorang teman dekatnya yang juga kenal denganku di media sosial dengan sebuah komentar singkat darinya "ciye..". Mereka terlihat begitu akrab dan cocok sekali.

Aku masih suka mendengarkan playlistnya.

Meski sebenarnya itu hanya caraku mengingatnya.

Meski rasanya aneh.

Mungkin memang benar, beberapa orang sangat gemar merawat luka.

***

Enam tahun berlalu sejak pertama aku mendapat "hadiah" darinya. Masih tersimpan di laci mejaku yang selalu terkunci, bersama barang-barang pribadi penting lainnya.

Aku lupa kapan terakhir kali mendengarkannya.

Meski sebenarnya hampir tidak pernah aku lupa untuk mengingatnya.

Meski rasanya masih aneh.

Mungkin memang benar, beberapa orang sangat ahli merawat luka.

Comments

  1. AH kesel jadinya ngegantung gini. Emang gak sempet ngobrol bareng abis nerima lagu? :)))

    ReplyDelete
  2. Di cerita ini sih ngga, di kehidupan nyata mah....

    JENGJENG!!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

A (Not So) Secret Admirer, Just A Serious Observer

#LingkarTulisan: Nomer Dua Puluh

Hati-hati, Hati!