A (Not So) Secret Admirer, Just A Serious Observer

"I always interpret coincidences as little clues to our destiny." - Ann Brashares


I used to hide and watch you from a distance

Aku menyukaimu bahkan sebelum kita saling bersalaman dan saling menyebut nama masing-masing.

Sejak pertama kulihat kamu di tengah keramaian kantin kantor saat jam makan siang.

Sejak pertama kuperhatikan kamu tidak seriuh dan seramai teman-teman semejamu yang lain.

Sejak pertama kusadar kamu jarang sekali terlihat berbicara apalagi tertawa di tempat umum. Beberapa kali kulihat hanya sekadar senyum tipis yang kamu keluarkan sebagai respons saat berkomunikasi.

Sejak pertama kutahu bahwa ternyata kita bergabung di komunitas yang sama.

I was looking for a time to get closer at least to say hello

Awalnya aku pikir akan lebih mudah berkenalan dengan orang yang pendiam karena tidak perlu takut dibuat salah tingkah saat harus bertemu lagi.

Aku salah.

Ternyata sangat sulit saat harus memulainya denganmu.

Ternyata aku tidak bisa mengucapkan satu kata sesederhana "hai" saat kita sering berpapasan di kantin, di lift, di parkiran, juga di tiap pertemuan komunitas kantor. Padahal rangkaian pertemuan tidak sengaja dan penuh kebetulan itu berujung pada aku yang juga secara tidak sengaja menjadi hafal kebiasaan-kebiasaan kecilmu.

Aku jadi tahu bahwa kita ternyata sama-sama menggunakan bus TransJakarta sebagai alat transportasi.

Aku jadi tahu bahwa kamu selalu memilih antara bubur ayam atau nasi kuning sebagai menu sarapan dan setelah selesai makan mungkin kamu adalah satu-satunya orang yang mau membawa mangkuk/piring bekas makannya ke tempat pencucian.

Aku jadi tahu bahwa kamu selalu terlihat menggunakan sweater atau jaket berwarna hitam sebagai pembungkus seragam kantormu atau kemeja yang seringkali juga terlihat didominasi warna biru gelap.

Aku juga (akhirnya) jadi tahu begitu saja nama dan bagian tempatmu bekerja tanpa perlu bertanya ke sana kemari.

Ternyata aku bahkan tidak bisa sekadar melempar senyum kepadamu saat satu dua detik mata kita tak sengaja saling tatap. Ah, tapi mungkin aku salah. Mungkin memang kamu sebenarnya tidak pernah melihatku.

I never thought that I'm so strong. I stuck on you and wait so long

Ini sudah tahun kesekian aku "melihatmu".

Sebatas melihat punggungmu saat sengaja sarapan dan memilih meja di belakangmu yang secara tidak langsung menjadi posisi kesukaanku.

Sebatas melihatmu berdiri tepat di sebelahku saat berada di lift bahkan secara terang-terangan memandangimu tapi kamu sedikitpun seolah tidak merasa terusik. Ada beberapa kesempatan kita hanya berdua di dalam kotak besi itu dan aku, yang seringkali larut dalam tontonan dan bacaan romantis penuh drama, kerap bertanya-tanya apa yang terjadi jika tiba-tiba listrik mati dan kita terjebak di dalamnya. Apa kamu juga akan tetap diam? Apa setelahnya kita akan menjadi dekat?

Sebatas melihatmu datang paling awal di acara komunitas kantor hanya untuk bisa duduk seorang diri di pojok bagian belakang ruangan.

When you love someone just be brave to say that you want him to be with you

Aku setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa teknologi mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Siapa sangka kita kembali dipertemukan di grup WhatsApp komunitas kantor meski aku sebenarnya sudah tidak aktif lagi dikarenakan harus pindah lokasi kerja. Apa menurutmu ini suatu kebetulan?

Aku setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa siapa saja bisa memulai perkenalan, baik itu laki-laki maupun perempuan. Siapa sangka aku akhirnya berani menghubungimu atas dasar ajakan perkenalan meski bukan lewat tatap muka dan pastinya menimbulkan kebingungan buatmu yang tidak tahu sosokku seperti apa.

***

Beberapa bulan dan kita tidak lagi saling berkomunikasi. Mungkin kita sama-sama terlalu sibuk. Mungkin rasa ketertarikanku hanya sebatas penasaran yang perlahan mulai hilang. Mungkin kamu memang tidak ada rasa apa-apa sejak awal.

Pernah terpikir satu dua kali untuk mengajakmu bertemu.

Agar kita bisa benar-benar berkenalan dengan bersalaman dan saling menyebut nama masing-masing.

Agar aku bisa menceritakan banyak hal yang ada di pikiranku tentangmu selama ini.

Ah, tapi rasanya tidak perlu.

Tapi siapa yang tahu apakah suatu saat nanti kita benar-benar akan bertemu atau kembali dipertemukan.

Entahlah.

But when love comes it can't be wrong. Don't ever give up, just try and try to get what you want cause love will find the way

***

-Terinspirasi dari lagu When You Love Someone - Endah N Rhesa-

Comments

  1. Whaini :)))
    Padahal kalau saya justru kabur jauh-jauh dari office romance...
    (Etapi ini merhatiinnya di kantin kantor kan ya, bisa aja cuma gedungnya aja yang sama tapi perusahaannya beda...)

    #MalahNgelanturSendiri

    ReplyDelete
  2. Waaah.. Dikomen salah satu blog kesukaan. \o/

    Iya ini ceritanya satu gedung beda perusahaan jadi merangkap elevator crush. #ea

    ReplyDelete
  3. Boleh juga nih sebutannya, serious observer. :)))

    Btw ini beneran ya? Coba tegur sapa di sosmednya, siapa tau bisa berlanjut. #eaaaa

    ReplyDelete
  4. Kira2 beneran tidak Kak? XD

    Apalah atinya socmed, kan udah punya nomer hapenya. #ea

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

#LingkarTulisan: Nomer Dua Puluh

Hati-hati, Hati!