Everything Is Not That Important, Everyone Is

Dilihat itu menyenangkan

Berbahagialah jika di luar sana ada seseorang yang melihatmu sebagai seseorang yang penting.
Mungkin kamu tidak selalu menjadi yang utama dalam segala hal, tapi kamu tahu betul bahwa kamu tidak akan pernah sendiri.
Dia ada.
Dia melihatmu tertawa bahkan menangis.
Dia melihatmu bercerita tentang apapun bahkan saat kamu memilih diam.
Dia melihatmu merangkai mimpi, mengejar, dan meraihnya bahkan saat ternyata harus jatuh.
Dia melihatmu ada bahkan saat di mata dunia kamu seolah tidak pernah ada.
Bersyukurlah jika selama ini dia ada dan melihatmu.

Rasanya menyenangkan, bukan?

Diingat itu menyenangkan.

Berbahagialah jika di luar sana ada seseorang yang mengingat hal-hal kecil baik yang kamu suka maupun tidak padahal itu bukanlah sesuatu yang penting dan bahkan kamu sendiri sudah lupa saat mengatakannya.
Ingatan sederhana seperti ajakan menonton film kartun karena belum lama kamu bilang butuh lebih banyak tertawa.
Ingatan sederhana seperti sebuah pesan singkat berisi semangat karena hari itu kamu memang akan sangat sibuk di tempat kerja dan tidak akan ada waktu untuk hal lain.
Ingatan sederhana seperti pertanyaan dan pernyataan "sudah makan?", "jadi ke dokter?", "istirahat dulu", dan semacamnya saat kamu pernah mengeluhkan kesehatanmu.
Ingatan sederhana seperti sebuah kiriman berupa foto/gambar/lagu/buku entah karena suatu waktu meski secara sekilas kamu pernah menyebutnya di dalam daftar keinginanmu atau murni karena hal itu mengingatkannya denganmu.
Bersyukurlah jika selama ini dia ada dan mengingatmu.

Rasanya menyenangkan, bukan?

Dilihat dan diingat memang sangatlah menyenangkan karena membuat seseorang merasa penting, spesial, dihargai, diperhatikan, bahkan untuk sebagian orang merasa diakui keberadaannya karena tidak semua orang berani mengutarakan isi pikirannya atau mengungkapkan keinginannya.

Mungkin saat membaca tulisan ini muncul satu dua nama di pikiranmu yang kamu anggap selama ini sudah melihat dan mengingatmu sedemikian rupa.
Bersyukurlah jika selama ini dia ada.

Rasanya menyenangkan, bukan?


Pertanyaannya, apa kamu sudah (merasa) melakukan hal yang sama terhadap dia atau mereka?

Comments

  1. Hmmm pertanyaan yang sulit dijawab...

    ReplyDelete
    Replies
    1. katanya sih diam juga adalah sebuah bentuk jawaban kak. #ea

      Delete
  2. Wah saya nggak ingat kapan ada yang begini hahaha...

    Saya sih menilai diri saya sendiri sebagai orang yang, apa ya, sincere ketika berhadapan dengan orang lain. Nggak punya hidden intention. Peduli ya peduli. Berteman ya berteman. Tapi rasanya sekarang makin banyak orang yang menerjemahkan kepedulian sebagai bentuk "modus" atau "PDKT" bahkan "attachment" sampai "baper".. dan akhirnya saya kayaknya jadi nggak tahu lagi harus gimana? :))))

    Eh ini komennya OOT nggak sih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang pembicaraan yang OOT itu lebih menyenangkan jadi ga stuck.

      Beberapa orang mungkin emang ada yang tingkat perhatiannya dirasa bikin baper padahal ybs biasa aja, ato sebaliknya. Bisa juga yang sebelumnya ga pernah dapet perhatian ato nyaman berteman karena selalu dianggap invisible sekalinya ketemu yang cocok antara baper ato merasa ga layak dan berusaha denial dengan mikir itu modus.

      Iya, ini juga balasan yang OOT dan sotoy pula. Ahaha

      Delete
    2. *menunggu blognya diupdate lagi*

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

A (Not So) Secret Admirer, Just A Serious Observer

Hati-hati, Hati!

Menikah Karena Muda(h)