Help Me, I'm Trapped!

Apa yang lebih menyedihkan dari keharusan menjalani sesuatu yang yang tidak diinginkan atau disukai?

Sebuah pertanyaan yang mungkin jawabannya adalah kehidupan saya belakangan ini. Hambar. Entah apa gunanya hidup dan apa yang mau saya lakukan dalam hidup. Saya tidak tahu dan sepertinya tidak pernah ada juga yang merasa perlu memberi tahu. Rasanya seperti berdiri di tengah jalan raya yang dilalui orang banyak. Mereka terlihat sibuk, terburu-buru, berjalan santai, berpegangan tangan, bermain handphone, mengobrol, tertawa, menikmati makanan dan minuman, membawa belanjaan atau binatang peliharaan., dan lain sebagainya. Sementara saya diam, terlewati sambil sesekali tersenggol tanpa ada yang mau repot-repot meminta maaf atau bahkan menoleh sekilas. Beberapa kali saya memberi jalan buat mereka atau membantu menopang saat tiba-tiba mereka terpeleset atau kerepotan dengan bawaannya. Akan tetapi lagi-lagi sepertinya tidak ada yang mau meluangkan sedikit waktunya mengucapkan terima kasih atau sekadar melempar senyum.

Di saat banyak orang dengan memudahnya mengingat kenangan masa kecil, masa sekolah, masa remaja, dan lainnya, saya justru merasa siap melakukan apa saja untuk bisa lupa dan mengulangnya sekali lagi. Padahal yang tersisa di ingatan pun tidak terlalu banyak, justru karena terlalu pahit.

Saya pikir saya akan terbiasa dan secara perlahan akan merasa nyaman dengan kondisi ini. Sayangnya tidak semudah itu.

Saat ini banyak sekali hal yang harus saya lakukan dan pikirkan. Sendirian. Saya tidak siap dan (rasanya) tidak mampu, tapi saya harus bisa dan kuat. Entah untuk apa dan siapa. Mungkin ini bukan soal kebahagiaan saya tapi yang jelas ini untuk diri saya sendiri. Mungkin ini bukan berarti saya mampu mengubah keadaan dan orang-orang di sekitar saya, tapi yang jelas ini membuat saya sadar untuk mulai memberi rasa dalam hidup.

Ada sebuah potongan kalimat dari salah satu serial drama yang pernah saya tonton, kira-kira seperti ini “Memilih untuk hidup atau mati saat kita ingin, manusia tak punya hak semacam itu. Hiduplah meski kau ingin mati. Dan karena kau belum mati, kau harus menjalani hidupmu.”

Beberapa kali saya mencoba menjalani hidup dengan cara berbeda, seolah dari nol, dan gagal atau tidak sesuai harapan. Tidak apa, toh selama saya masih hidup saya masih punya banyak kesempatan.

Jadi, apa yang lebih menyedihkan dari keharusan menjalani sesuatu yang yang tidak diinginkan atau disukai?

Menurut saya, saat terjebak sekian lama di dalamnya dan mulai merasa bahwa semua baik-baik saja, padahal tidak.

Comments

Popular posts from this blog

Hati-hati, Hati!

Menikah Karena Muda(h)

Hello, Goodbye